Senin, Juli 27, 2026
spot_img
Beranda blog Halaman 4

Masuk 5 Besar PKPD Lampung 2026, Bupati Egi: Penghargaan Hanyalah Bonus, Pembangunan Berdampak Jadi Prioritas

0

KALIANDA, (Ltc):

Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, menegaskan bahwa penghargaan bukanlah tujuan utama dalam penyelenggaraan pembangunan daerah.

Menurutnya, yang terpenting adalah memastikan setiap program pembangunan mampu memberikan manfaat nyata dan berdampak langsung bagi masyarakat.

Penegasan tersebut disampaikan Egi saat Pemerintah Kabupaten  Lampung Selatan mengikuti verifikasi faktual Penghargaan Kinerja Pembangunan Daerah (PKPD) Kabupaten/Kota Provinsi Lampung Tahun 2026 yang berlangsung di Aula Rajabasa, Kantor Bupati Lampung Selatan, pada Selasa (7/7/2026).

“Saya selalu berpesan kepada teman-teman bahwa penghargaan itu bukan tujuan utama, melainkan bonus. Tujuan utama kami adalah menghadirkan program-program yang benar-benar memberikan dampak positif bagi masyarakat,” kata Egi.

Egi juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Lampung atas penyelenggaraan PKPD Tahun 2026 yang dinilai menjadi salah satu instrumen untuk mendorong peningkatan kualitas perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di daerah.

Ia pun mengucapkan terima kasih atas perhatian dan kepercayaan yang diberikan kepada Pemkab Lampung Selatan dalam proses penilaian tersebut. Menurutnya, apa pun hasil yang nantinya diperoleh akan menjadi motivasi bagi pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kualitas pembangunan demi kesejahteraan masyarakat.

“Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian dan kepercayaan kepada Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan. Apa pun hasilnya nanti, kami akan menjadikannya sebagai motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pembangunan,” kata Egi.

Komitmen itu sejalan dengan langkah Pemkab Lampung Selatan yang terus mendorong pembangunan daerah secara terencana, partisipatif, dan berdampak bagi masyarakat.

Setelah berhasil lolos sebagai salah satu dari lima kabupaten terbaik di Provinsi Lampung pada tahap administrasi, kini Lampung Selatan mengikuti tahapan verifikasi faktual PKPD Tahun 2026.

Verifikasi faktual menjadi tahapan kedua dalam proses penilaian PKPD sekaligus momentum bagi Pemkab Lampung Selatan untuk membuktikan kesesuaian antara dokumen perencanaan pembangunan dengan implementasi program serta hasil pembangunan yang telah dirasakan masyarakat.

Kegiatan diawali dengan pemaparan mekanisme penilaian oleh Tim Penilai Utama (TPU) yang dipimpin Kepala Bidang Perencanaan Perekonomian Bappeda Provinsi Lampung, Endang Wahyuni. Selanjutnya, proses verifikasi dilakukan oleh Tim Penilai Independen yang terdiri atas Prof. Dr. Ayi Ahadiat, S.E., M.B.A., Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M.S., M. Bobby Rahman, S.T., M.Si. (Han)., Ph.D., dan H. Ardiansyah, S.H.

Dalam sambutannya, Sekretaris Daerah Kabupaten Lampung Selatan, Supriyanto, menyampaikan apresiasi atas kehadiran tim penilai dan menyambut baik pelaksanaan verifikasi faktual sebagai bagian dari rangkaian penilaian PKPD Tahun 2026.

Menurut Supriyanto, penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi pemerintah kepada daerah yang mampu menyusun dan melaksanakan perencanaan pembangunan secara berkualitas, partisipatif, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Seluruh capaian yang diraih Kabupaten Lampung Selatan merupakan hasil kerja keras, sinergi, dan kolaborasi seluruh perangkat daerah bersama DPRD, akademisi, dunia usaha, media, hingga masyarakat dalam menyusun perencanaan pembangunan yang berbasis data dan kebutuhan masyarakat,” ujar Supriyanto.

Pada kesempatan itu, Supriyanto juga memaparkan berbagai capaian pembangunan daerah yang menunjukkan tren positif sepanjang tahun 2025, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat, penurunan angka kemiskinan dan pengangguran, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia, hingga penguatan pelayanan kesehatan, pendidikan, reformasi birokrasi, serta tata kelola pemerintahan.

Ia berharap seluruh pemangku kepentingan dapat memberikan informasi secara objektif kepada tim penilai sebagai bentuk pertanggungjawaban atas proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan yang telah dilakukan.

“Semoga semangat sinergi dan kolaborasi ini dapat membawa Kabupaten Lampung Selatan meraih Penghargaan Kinerja Pembangunan Daerah Tahun 2026 sekaligus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pembangunan yang adaptif, inovatif, berkelanjutan, dan berdampak bagi kesejahteraan masyarakat,” kata Supriyanto.

Sementara itu, Tim Penilai Utama, Endang Wahyuni, menyampaikan apresiasi kepada Kabupaten Lampung Selatan yang berhasil melaju ke tahap kedua penilaian PKPD Tahun 2026.

Endang menjelaskan, verifikasi faktual memiliki bobot penilaian sebesar 40 persen dan menjadi tahapan penting untuk mengonfirmasi hasil evaluasi dokumen yang telah dilakukan sebelumnya.

Menurutnya, proses penilaian meliputi pemutaran video profil daerah, presentasi pemerintah daerah, dialog bersama para pemangku kepentingan, hingga kunjungan lapangan guna memastikan kesesuaian antara dokumen perencanaan dengan implementasi pembangunan di lapangan.

“Kami berharap seluruh informasi yang disampaikan dapat memberikan gambaran yang komprehensif mengenai pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Lampung Selatan, sehingga proses penilaian dapat berlangsung secara objektif,” ujar Endang.

Melalui tahapan verifikasi faktual tersebut, Pemkab Lampung Selatan optimistis mampu menunjukkan kualitas perencanaan pembangunan yang selaras dengan pelaksanaan program serta hasil pembangunan yang dirasakan masyarakat.

Keikutsertaan dalam PKPD Tahun 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang penilaian, tetapi juga momentum untuk terus memperkuat tata kelola pembangunan yang partisipatif, inovatif, akuntabel, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. (Kmf-Ech/*/red)

Dari Ruang Kelas Menumbuhkan Pemimpin

0
RISWO SE M.Si Gitu SMAN 1 Kalianda Lampung Selatan
RISWO SE M.Si Guru SMAN 1 Kalianda Lampung Selatan

“Dari Ruang Kelas Menumbuhkan Peminpin”

Bel sekolah belum berbunyi ketika beberapa peserta didik mulai memasuki ruang kelas. Sebagian membuka buku yang mereka bawa dari rumah, sebagian mengambil bacaan dari sudut literasi yang tersedia di kelas. Tidak ada suara gaduh seperti biasanya. Lima belas menit pertama pagi itu menjadi waktu yang berbeda. Mereka membaca, menyelami cerita, memahami gagasan, lalu bersiap menceritakan kembali apa yang telah mereka baca.
Bagi orang lain, mungkin pemandangan tersebut terlihat sederhana. Namun bagi seorang guru, kebiasaan kecil itu memiliki makna yang sangat besar. Saya melihat di dalamnya ada proses panjang tentang bagaimana sebuah budaya dibangun. Tidak ada perubahan yang terjadi dalam satu malam. Semua berawal dari gagasan sederhana, komitmen bersama, dan keteladanan yang terus dijaga.
Saya selalu meyakini bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung ketika guru menyampaikan materi pelajaran di depan kelas. Pendidikan terjadi ketika seorang guru mampu menanamkan nilai, membangun karakter, dan membuka jalan agar peserta didik menemukan kemampuan terbaik dalam dirinya. Ruang kelas bukan sekadar tempat belajar, tetapi tempat masa depan bangsa mulai dipersiapkan.
Dari ruang kelas itulah saya memahami bahwa kepemimpinan seorang guru sesungguhnya sudah dimulai jauh sebelum seseorang mendapatkan jabatan tertentu. Ketika guru membimbing peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, ketika guru mencari cara baru agar pembelajaran lebih menarik, ketika guru memberi semangat kepada anak yang hampir kehilangan percaya diri, saat itulah kepemimpinan sedang tumbuh.
Pemahaman tersebut semakin kuat ketika dunia pendidikan menghadapi tantangan besar akibat pandemi COVID-19 pada tahun 2020. Pandemi mengubah banyak hal dalam proses pembelajaran. Guru harus beradaptasi dengan cara mengajar yang berbeda, peserta didik harus menyesuaikan diri dengan situasi yang tidak biasa, dan sekolah harus mencari berbagai strategi agar proses pendidikan tetap berjalan.
Dalam kondisi tersebut, saya berpikir bahwa guru tidak boleh berhenti berkarya. Justru pada masa sulit seperti itulah semangat belajar dan berbagi harus semakin diperkuat. Dari pemikiran sederhana tersebut lahirlah gagasan untuk mengajak guru-guru mendokumentasikan pengalaman mengajar melalui tulisan.

Saya melihat bahwa setiap guru memiliki cerita dan pengetahuan yang sangat berharga. Bertahun-tahun berada di ruang kelas membuat guru memiliki banyak pengalaman tentang bagaimana menghadapi karakter peserta didik, bagaimana mencari solusi pembelajaran, dan bagaimana menjaga semangat belajar di tengah berbagai keterbatasan. Sayangnya, banyak pengalaman baik tersebut hanya tersimpan dalam ingatan dan belum banyak dibagikan kepada orang lain.
Karena itulah gerakan guru menulis mulai dikembangkan. Bersama rekan-rekan guru di SMA Negeri 1 Kalianda, kami mulai menuangkan pengalaman dan pemikiran dalam bentuk tulisan. Proses tersebut tidak selalu mudah. Ada guru yang awalnya merasa tidak mampu menulis, ada yang ragu apakah tulisannya layak dibaca, dan ada pula yang membutuhkan dorongan untuk memulai.
Namun, saya percaya bahwa kemampuan menulis bukan hanya milik orang-orang tertentu. Menulis adalah keterampilan yang dapat dilatih. Yang terpenting adalah keberanian untuk memulai dan kemauan untuk terus belajar.

Perlahan, semangat tersebut tumbuh. Guru mulai berbagi pengalaman, berdiskusi, saling memberikan masukan, hingga akhirnya menghasilkan karya bersama. Beberapa buku antologi guru berhasil diterbitkan, salah satunya berjudul Manajerial dan Strategi Pembelajaran di Masa Pandemi. Selain itu, beberapa guru juga mulai menghasilkan buku secara mandiri sesuai dengan bidang dan pengalaman masing-masing.

Bagi saya, lahirnya buku-buku tersebut bukan hanya keberhasilan dalam menghasilkan sebuah karya tulis. Lebih dari itu, ada perubahan cara pandang yang terjadi. Guru mulai menyadari bahwa dirinya bukan hanya pelaksana pembelajaran, tetapi juga seorang intelektual yang memiliki pengalaman dan gagasan yang layak dibagikan.
Dari pengalaman tersebut saya semakin yakin bahwa seorang pemimpin pendidikan harus berawal dari seseorang yang mau terus belajar. Kepemimpinan tidak tumbuh dari kekuasaan, tetapi dari kemauan untuk memberi manfaat. Guru yang terus berkembang akan mampu mengembangkan orang lain. Guru yang berani berubah akan mampu menggerakkan perubahan di lingkungan sekitarnya.
Gerakan menulis yang tumbuh di kalangan guru kemudian menjadi inspirasi untuk memperluas budaya literasi di lingkungan sekolah. Saya menyadari bahwa literasi tidak cukup hanya berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Literasi harus menjadi kebiasaan yang membentuk cara berpikir, cara berkomunikasi, dan cara peserta didik melihat dirinya sendiri.
Pada tahun 2021, melalui rapat sekolah bersama Kepala SMA Negeri 1 Kalianda, Ibu Darmiyati, S.Pd., M.Pd., serta seluruh dewan guru, kami menyepakati sebuah langkah sederhana namun memiliki makna besar, yaitu pembiasaan membaca selama lima belas menit sebelum pembelajaran dimulai.
Kesepakatan tersebut lahir dari kesadaran bersama bahwa budaya membaca tidak dapat tumbuh hanya melalui program yang bersifat seremonial. Membaca harus menjadi bagian dari kehidupan sekolah. Peserta didik perlu merasakan bahwa buku bukanlah beban, melainkan jendela yang membuka pengetahuan dan pengalaman baru.
Pada awal pelaksanaannya, tentu tidak semua berjalan sempurna. Ada peserta didik yang masih membutuhkan motivasi untuk membaca. Ada pula yang belum terbiasa menyampaikan kembali gagasan dari buku yang telah dibacanya. Namun kami memahami bahwa membangun budaya membutuhkan waktu. Seperti menanam sebuah pohon, hasilnya tidak dapat dinikmati dalam satu atau dua hari. Dibutuhkan kesabaran, perawatan, dan keyakinan bahwa suatu saat pohon tersebut akan tumbuh dan memberikan manfaat.
Perlahan tetapi pasti, perubahan mulai terlihat. Peserta didik semakin terbiasa berinteraksi dengan buku. Mereka mulai berani berbicara, menyampaikan pendapat, dan berdiskusi tentang berbagai hal yang mereka baca. Dari kegiatan membaca tumbuh rasa ingin tahu. Dari rasa ingin tahu muncul keberanian untuk menulis.
Saat itulah kami mulai membuka ruang yang lebih luas agar peserta didik dapat menuangkan ide dan pengalaman mereka dalam bentuk karya. Saya ingin mereka memahami bahwa buku bukan hanya sesuatu yang dibaca, tetapi juga sesuatu yang dapat mereka ciptakan.
Dari proses tersebut lahirlah berbagai karya peserta didik SMA Negeri 1 Kalianda. Mereka berhasil menghasilkan antologi puisi berjudul Penyair Muda Bumi Ragom Mufakat, antologi cerpen berjudul Langit Putih Abu-Abu, serta antologi artikel yang mengangkat tema kearifan lokal. Bagi kami, buku-buku tersebut bukan sekadar kumpulan tulisan. Setiap halaman di dalamnya menyimpan cerita tentang keberanian, proses belajar, dan mimpi peserta didik.
Saya masih mengingat kebahagiaan mereka ketika melihat tulisan sendiri tercetak dalam sebuah buku. Ada rasa bangga yang sulit digambarkan. Anak-anak yang sebelumnya mungkin merasa bahwa menulis adalah sesuatu yang sulit, akhirnya menyadari bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menghasilkan karya.

Pengalaman tersebut semakin meneguhkan keyakinan saya bahwa tugas guru bukan hanya menemukan anak yang sudah berbakat, tetapi membantu setiap anak menemukan bakat yang mungkin belum mereka sadari.
Salah satu perjalanan yang menjadi kebanggaan sekolah adalah kisah Nia Ramadani. Melalui kebiasaan membaca dan menulis yang terus dibangun, Nia semakin percaya diri mengembangkan kemampuan literasinya. Ketekunan dan kerja kerasnya kemudian mengantarkannya meraih Juara I Lomba Menulis Cerpen tingkat Kabupaten Lampung Selatan selama dua tahun berturut-turut.
Selain prestasi tersebut, peserta didik SMA Negeri 1 Kalianda juga berhasil meraih berbagai penghargaan dalam bidang literasi, seperti lomba menulis esai, cerpen, dan jurnalistik hingga tingkat kabupaten maupun provinsi. Bagi saya, prestasi tersebut bukan hanya tentang piala dan penghargaan, tetapi tentang bukti bahwa ketika sekolah memberikan ruang, peserta didik mampu berkembang melampaui batas yang mungkin sebelumnya mereka bayangkan.
Dari perjalanan panjang tersebut saya semakin memahami bahwa kepemimpinan guru tidak dapat diukur hanya dari jabatan yang dimiliki. Seorang guru disebut pemimpin ketika ia mampu menggerakkan, menginspirasi, dan membawa perubahan positif bagi orang lain.
Guru yang mengajak peserta didik membaca sedang membangun budaya belajar. Guru yang mendorong peserta didik menulis sedang menumbuhkan keberanian berekspresi. Guru yang mengajak rekan sejawat berbagi praktik baik sedang membangun komunitas pembelajar. Semua itu adalah bentuk nyata kepemimpinan.
Ruang kelas sebenarnya merupakan tempat pertama seorang guru belajar menjadi pemimpin. Di sana guru menghadapi beragam karakter manusia, menyelesaikan berbagai persoalan, mengambil keputusan, dan mencari cara terbaik agar setiap peserta didik mendapatkan kesempatan untuk berkembang.

Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi bekal penting ketika seorang guru dipersiapkan menjadi pemimpin pendidikan melalui Program Kepemimpinan Guru bagi Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) dan Bakal Calon Pengawas Sekolah (BCPS).
Menurut saya, program BCKS dan BCPS bukan hanya tentang menyiapkan seseorang untuk mengisi posisi tertentu dalam struktur pendidikan. Program ini merupakan upaya memperluas dampak kepemimpinan yang telah tumbuh dari ruang kelas.
Guru yang telah terbiasa menggerakkan perubahan kecil di kelas memiliki modal penting untuk menggerakkan perubahan yang lebih besar di sekolah. Sebab sekolah yang maju tidak hanya dibangun oleh aturan dan program kerja, tetapi oleh pemimpin yang memahami manusia di dalamnya.
Dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045, pendidikan menjadi fondasi utama yang menentukan kualitas masa depan bangsa. Bonus demografi yang dimiliki Indonesia hanya akan menjadi kekuatan apabila dipersiapkan melalui pendidikan yang bermutu. Karena itu, menghadirkan pemimpin-pemimpin pendidikan yang memiliki visi, keteladanan, dan kemampuan menggerakkan perubahan menjadi sebuah kebutuhan yang tidak dapat ditunda.
Program Kepemimpinan Guru melalui Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) dan Bakal Calon Pengawas Sekolah (BCPS) menjadi bagian penting dalam menyiapkan pemimpin pendidikan tersebut. Namun, saya meyakini bahwa kepemimpinan sejati tidak dimulai ketika seseorang mendapatkan amanah jabatan. Kepemimpinan dimulai sejak seorang guru memilih untuk peduli, terus belajar, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Pengalaman membangun budaya literasi di SMA Negeri 1 Kalianda memberikan pelajaran berharga bahwa perubahan besar sering kali berawal dari langkah kecil. Sebuah gagasan sederhana untuk mengajak guru menulis, sebuah kesepakatan membaca lima belas menit sebelum pembelajaran, hingga keberanian peserta didik menghasilkan karya tulis, semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang membangun budaya sekolah.
Dari proses tersebut saya semakin percaya bahwa ruang kelas adalah tempat pertama lahirnya para pemimpin masa depan. Di sanalah guru menanamkan nilai kejujuran, membangun karakter, menumbuhkan kreativitas, dan mengajarkan arti perjuangan.
Indonesia yang berdaulat membutuhkan generasi yang memiliki karakter kuat dan mampu menghadapi perubahan zaman. Indonesia yang adil membutuhkan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk berkembang. Indonesia yang makmur membutuhkan manusia-manusia kreatif, inovatif, dan produktif.
Semua cita-cita besar itu sesungguhnya dimulai dari ruang yang sederhana. Ruang tempat seorang guru berdiri setiap hari, menyapa peserta didiknya, membuka buku, berbagi ilmu, dan menyalakan harapan.
Bel sekolah akan kembali berbunyi esok pagi. Anak-anak akan kembali memasuki ruang kelas dengan membawa mimpi masing-masing. Mungkin mereka belum menyadari bahwa kebiasaan kecil yang dilakukan hari ini sedang mempersiapkan masa depan mereka.
Namun, bagi seorang guru, setiap proses itu memiliki arti. Sebab guru tidak hanya mengajarkan apa yang tertulis dalam buku, tetapi membantu anak-anak menemukan siapa dirinya dan apa yang mampu mereka lakukan.
Pada akhirnya, saya semakin yakin bahwa jalan menuju Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur tidak selalu dimulai dari tempat yang besar. Ia dimulai dari jutaan ruang kelas di seluruh penjuru negeri, tempat para guru dengan ketulusan hati terus menumbuhkan pemimpin-pemimpin masa depan. Karena perubahan bangsa selalu dimulai dari satu tempat yang sama.
Ruang kelas.

Oleh : Riswo, S.E., M.Si.
Guru SMA Negeri 1 Kalianda Lampung Selatan

Bupati Lampung Selatan Egi Lanjutkan Kerja Sama Dengan IIB Darmajaya Bandar Lampung

0

KALIANDA, (Ltc):

Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, menyatakan dukungan terhadap rencana perpanjangan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan dan Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya Bandar Lampung sebagai langkah memperkuat kolaborasi dalam mendukung pembangunan daerah yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Komitmen tersebut disampaikan Bupati Radityo Egi saat menerima audiensi jajaran IIB Darmajaya di Ruang Kerja Bupati Lampung Selatan, pada Selasa (7/7/2026).

Dalam pertemuan itu, Bupati Egi didampingi Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Anasrullah, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Agustinus Oloan, Plt Kepala Dinas Pendidikan Syaifulloh, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan I Nyoman Setiawan serta Kepala Bagian Kerja Sama Sekretariat Daerah Muhammad Ali.

Bupati Radityo Egi menegaskan, Pemkab Lampung Selatan terbuka terhadap setiap bentuk kerja sama yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, selama dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan dan sejalan dengan arah pembangunan daerah.

“Selama kerja sama ini memberikan manfaat bagi masyarakat dan sesuai dengan aturan yang berlaku, tentu kami menyambut baik. Yang terpenting, seluruh program harus diselaraskan dengan tujuan besar serta prioritas pembangunan Kabupaten Lampung Selatan,” ujar Bupati Egi.

Menurut Bupati Egi, kerja sama tidak cukup hanya dituangkan dalam dokumen kesepahaman, tetapi harus diwujudkan melalui program yang terukur, tepat sasaran, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Oleh karena itu, ia meminta agar Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang akan disusun nantinya dipertajam dan disinkronkan dengan program-program prioritas Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) IIB Darmajaya, Prof. Dr. M. Said Hasibuan, M.Kom., menjelaskan bahwa audiensi tersebut merupakan tindak lanjut dari berakhirnya Memorandum of Understanding (MoU) antara IIB Darmajaya dan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan pada Juli 2026.

Ia mengatakan, melalui perpanjangan kerja sama tersebut, kedua belah pihak berkomitmen melanjutkan sinergi dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Pada sektor pendidikan, IIB Darmajaya akan melaksanakan Program Praktik Kerja Pengabdian Masyarakat (PKPM) atau Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama satu bulan di desa-desa.

“Program tersebut difokuskan pada pendampingan UMKM, peningkatan kapasitas masyarakat, pemberian sertifikasi kompetensi, serta penyelenggaraan kuliah umum untuk meningkatkan kompetensi di bidang teknologi, ekonomi, dan bisnis,” ujar Prof Said.

Selain itu, pada bidang pengabdian kepada masyarakat, IIB Darmajaya juga menawarkan program pengembangan desa wisata berbasis teknologi, pariwisata, dan bisnis sebagai upaya memperkuat potensi ekonomi lokal sekaligus mendorong inovasi pembangunan desa.

Prof. Said berharap, perpanjangan kerja sama tersebut dapat diimplementasikan secara sistematis melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian, hingga pengembangan program secara berkelanjutan sehingga memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat dan pembangunan Kabupaten Lampung Selatan. (Kmf-lmhr)

Apel Mingguan Jadi Momentum Pemkab Lampung Selatan Perkuat Disiplin dan Budaya Melayani ASN

0

KALIANDA, (Ltc):

Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pelayanan publik yang semakin berkualitas melalui penguatan disiplin dan profesionalisme aparatur sipil negara (ASN).

Komitmen tersebut ditegaskan dalam apel mingguan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan yang digelar di Lapangan Korpri, Kalianda, pada Senin (6/7/2026).

Apel dipimpin Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Anasrullah, serta diikuti seluruh jajaran ASN di lingkungan Pemkab Lampung Selatan, mulai dari pejabat pimpinan tinggi pratama, pejabat administrator, pejabat fungsional, hingga PNS dan PPPK.

Menyampaikan amanat Bupati Lampung Selatan, Anasrullah mengatakan bahwa ASN memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar menyelesaikan pekerjaan administratif maupun menjalankan program kerja pemerintah.

Menurutnya, tugas utama seorang ASN adalah menghadirkan pemerintahan yang mampu memberikan solusi atas kebutuhan masyarakat, melayani dengan sepenuh hati, serta membangun kepercayaan publik melalui kinerja yang profesional.

“Amanah utama kita adalah menghadirkan pemerintah yang mampu memberi solusi, melayani dengan tulus, dan membangun kepercayaan masyarakat,” ujar Anasrullah.

Anasrullah juga mengingatkan bahwa ekspektasi masyarakat terhadap kualitas pelayanan pemerintah terus meningkat. Karena itu, seluruh ASN dituntut mampu memberikan pelayanan yang cepat, mudah, transparan, dan responsif terhadap setiap kebutuhan masyarakat.

“Karena itu, marilah kita terus memperkuat disiplin, meningkatkan kompetensi, memanfaatkan teknologi dalam pelayanan, serta membangun budaya kerja yang kolaboratif dan berorientasi pada hasil,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Anasrullah juga menekankan pentingnya disiplin sebagai fondasi utama dalam membangun organisasi pemerintahan yang profesional. Ia mengingatkan seluruh ASN untuk mengikuti apel tepat waktu, mengenakan atribut sesuai ketentuan, serta menjaga ketertiban selama pelaksanaan upacara.

Menurutnya, kedisiplinan yang dibangun dari hal-hal sederhana akan membentuk budaya kerja yang lebih baik sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah.

Menutup amanatnya, Anasrullah mengajak seluruh ASN menjadikan awal pekan sebagai momentum untuk memperkuat semangat pengabdian kepada masyarakat melalui kinerja yang semakin disiplin, inovatif, cepat, dan berorientasi pada pelayanan.

“Mari kita awali minggu ini dengan semangat baru. Bekerja lebih disiplin, lebih inovatif, lebih cepat, dan lebih tulus dalam melayani masyarakat,” kata Anasrullah. (Dul/*/red)

Hadapi Penilaian Ombudsman 2026, Sekda Lampung Selatan Minta Perangkat Daerah Tingkatkan Kualitas Pelayanan Publik

0

KALIANDA, (Ltc):

Pemerintah Kabupaten  Lampung Selatan terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Hal itu ditegaskan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lampung Selatan, Supriyanto, saat memimpin Rapat Koordinasi Mingguan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan di Aula Rajabasa, kantor bupati setempat, pada Senin (6/7/2026).

Peningkatan kualitas pelayanan menjadi perhatian utama mengingat dalam waktu dekat Kabupaten Lampung Selatan akan menghadapi Penilaian Kepatuhan Penyelenggaraan Pelayanan Publik Tahun 2026 yang dilaksanakan oleh Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Provinsi Lampung.

Dalam arahannya, Supriyanto mengingatkan seluruh perangkat daerah agar menjadikan capaian tahun sebelumnya sebagai motivasi untuk terus berbenah. Pada Penilaian Kepatuhan Tahun 2025, Kabupaten Lampung Selatan berhasil meraih kategori hijau, yang menunjukkan tingkat kepatuhan tinggi terhadap standar pelayanan publik.

Namun demikian, menurutnya, capaian tersebut tidak boleh membuat seluruh perangkat daerah berpuas diri. Justru sebaliknya, setiap organisasi perangkat daerah harus terus meningkatkan kualitas pelayanan agar nilai kepatuhan semakin baik.

“Tahun lalu kita memperoleh kategori hijau. Tahun ini tentu harus meningkat. Kategori hijau itu memiliki skor yang harus terus kita tingkatkan. Jangan sampai turun menjadi kuning, apalagi merah,” tegas Supriyanto.

Sekda juga meminta perangkat daerah yang menjadi lokus penilaian agar benar-benar mempersiapkan seluruh indikator yang telah ditetapkan. Menurutnya, pemenuhan setiap aspek penilaian harus dilakukan secara maksimal sehingga hasil yang diraih Kabupaten Lampung Selatan dapat meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

“Tolong perangkat daerah yang sudah diinformasikan untuk penilaian ini benar-benar diperhatikan dan diseriusi. Pastikan penilaiannya berjalan dengan baik sehingga hasil penilaian kita menjadi lebih baik lagi,” ujarnya.

Adapun perangkat daerah yang menjadi lokus Penilaian Kepatuhan Penyelenggaraan Pelayanan Publik Tahun 2026 meliputi Inspektorat, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Dinas Sosial, Bagian Organisasi Sekretariat Daerah, serta SD Negeri 1 Way Urang.

Selain membahas kesiapan menghadapi penilaian Ombudsman, Supriyanto juga menyoroti pelaksanaan penilaian Zona Integritas yang saat ini tengah berlangsung di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Puskesmas Way Urang, dan Puskesmas Kalianda.

Untuk memastikan seluruh proses berjalan optimal, Supriyanto meminta Inspektorat bersama Bagian Organisasi terus memberikan pendampingan kepada perangkat daerah yang menjadi lokus penilaian, baik dalam pemenuhan administrasi maupun indikator penilaian.

“Saya minta Pak Inspektur bersama Bagian Organisasi membantu dan memfasilitasi seluruh kebutuhan penilaian. Pastikan prosesnya berjalan dengan baik sehingga memperoleh hasil yang maksimal,” kata Supriyanto. (Nsy/*/red)

Gema HELAU Kembali Digelar, Pemkab Lampung Selatan Perkuat Budaya Gotong Royong Bersihkan Wajah Kota Kalianda

0

KALIANDA, (Ltc):

Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan melalui Gerakan Bersama (Gema) Hijau, Elok, Lestari, Aman, dan Unggul (HELAU), pada Jumat (3/7/2026).

Aksi gotong royong massal yang melibatkan ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) tersebut digelar serentak untuk menciptakan lingkungan yang bersih, tertata, dan nyaman sebagai bagian dari upaya mewujudkan Kabupaten Lampung Selatan yang HELAU.

Kegiatan yang telah menjadi agenda rutin bulanan ini difokuskan pada empat zona utama di wilayah Kota Kalianda yang merupakan wajah ibu kota kabupaten. Zona pertama meliputi ruas Jalan Tugu Adipura atau Tugu Perahu Lapangan Korpri hingga Simpang Hotel Beringin. Zona kedua dimulai dari Lampu Merah Tugu Radin Intan sampai Simpang Hotel Beringin.

Zona ketiga menyasar kawasan Simpang Sinar Laut hingga Simpang Pantai Bintaro. Sementara zona keempat mencakup Simpang Pos Polisi Turjawali Masjid Agung Kalianda sampai Gerbang Kantor Bupati Lampung Selatan.

Sejak pukul 07.30 WIB, ratusan ASN tampak bergotong royong membersihkan berbagai titik di sepanjang ruas jalan protokol. Mereka menyapu sampah, membersihkan rumput liar, memangkas ranting pohon yang berpotensi mengganggu keselamatan pengguna jalan, serta menata lingkungan agar terlihat lebih rapi dan asri.

Asisten Bidang Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Lampung Selatan, Edy Firnandi, yang memimpin kegiatan di salah satu lokasi, mengatakan bahwa Gema HELAU merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus menumbuhkan semangat gotong royong di kalangan ASN.

“Hari ini fokus pembersihan dilakukan di ruas-ruas jalan protokol yang telah dibagi ke masing-masing kelompok kerja,” ujar Edy Firnandi di sela kegiatan.

Menurut Edy, menjaga kebersihan lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif seluruh masyarakat. Oleh karena itu, melalui Gema HELAU, Pemkab Lampung Selatan mengajak masyarakat untuk membiasakan hidup bersih, salah satunya dengan tidak membuang sampah sembarangan.

“Manfaatkan tempat sampah yang telah disediakan. Mudah-mudahan Kabupaten Lampung Selatan semakin maju dan semakin HELAU,” katanya.

Senada dengan itu, Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Lampung Selatan, M. Darmawan, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan kebersihan lingkungan sebagai budaya bersama yang terus dipelihara.

“Kami berharap semangat gotong royong ini dapat terus tumbuh di tengah masyarakat. Mari Bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan, terutama dengan tidak membuang sampah plastik sembarangan, sehingga Kabupaten Lampung Selatan menjadi daerah yang bersih, indah, sehat, dan nyaman untuk semua,” ujar M. Darmawan.

Melalui pelaksanaan Gema HELAU secara berkelanjutan, Pemkab Lampung Selatan berharap budaya gotong royong semakin mengakar di tengah masyarakat, kepedulian terhadap lingkungan terus meningkat, serta partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan semakin kuat. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen bersama untuk mewujudkan Kabupaten Lampung Selatan yang bersih, indah, maju, dan berkelanjutan. (Kmf-lmhr/*/red)

Perkuat Kemandirian Fiskal Daerah, Bupati Radityo Egi Ikuti Dialog Otonomi Daerah pada HUT ke-26 Apkasi

0

 

DELI SERDANG, (Ltc):

Komitmen Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan dalam memperkuat kemandirian fiskal daerah terus diwujudkan melalui berbagai forum strategis tingkat nasional.

Salah satunya ditunjukkan Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, saat mengikuti Dialog Otonomi Daerah dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi), sebagai upaya memperkuat kapasitas daerah dalam mengoptimalkan sumber-sumber pendapatan daerah.

Dialog yang berlangsung di Convention Hall, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatra Utara, pada Kamis (2/7/2026), tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Bima Arya Sugiarto.

Forum dialog tersebut menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian HUT ke-26 Apkasi yang mempertemukan para bupati dari seluruh Indonesia.

Selain mempererat sinergi antarpemerintah kabupaten, kegiatan itu juga menjadi ruang diskusi mengenai berbagai strategi penguatan otonomi daerah, peningkatan daya saing, hingga kolaborasi dalam menghadapi tantangan pembangunan yang semakin kompleks.

Dalam forum tersebut mengemuka bahwa pemerintah daerah dituntut semakin adaptif dan inovatif di tengah semakin terbatasnya ruang fiskal akibat kebijakan efisiensi anggaran.

Kondisi tersebut mendorong setiap daerah untuk mampu mengoptimalkan potensi pendapatan asli daerah (PAD), meningkatkan efektivitas belanja, serta membangun berbagai bentuk kolaborasi antardaerah.

Bupati Radityo Egi Pratama, mengatakan Dialog Otonomi Daerah memiliki peran penting sebagai wadah bertukar gagasan sekaligus memperkuat sinergi antarpemerintah kabupaten dalam merumuskan solusi atas berbagai tantangan pembangunan.”Apkasi menjadi ruang kolaborasi bagi pemerintah kabupaten untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan memperkuat sinergi. Berbagai inovasi yang lahir dari forum ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik serta mempercepat pembangunan di Kabupaten Lampung Selatan,” ujar Bupati Egi.

Menurut Egi, penguatan jejaring antardaerah menjadi modal penting dalam mendorong lahirnya berbagai inovasi, khususnya dalam meningkatkan kemandirian fiskal melalui optimalisasi potensi dan pengelolaan sumber pendapatan daerah yang berkelanjutan.

Selama 26 tahun, Apkasi terus berperan sebagai wadah strategis bagi pemerintah kabupaten di seluruh Indonesia dalam memperjuangkan aspirasi daerah, memperkuat kerja sama antardaerah, serta mendorong terwujudnya tata kelola pemerintahan yang semakin efektif, adaptif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Melalui keikutsertaannya dalam forum nasional tersebut, Pemkab Lampung Selatan berharap dapat memperluas jejaring kerja sama sekaligus mengadopsi berbagai praktik terbaik dari daerah lain guna mendorong pembangunan yang inovatif, berdaya saing, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. (Nsy-Kmf/*/red)

Lampung Selatan Masuk Tahap II Penilaian PPD 2026, Tim Bappenas Lakukan Wawancara dan Verifikasi

0

KALIANDA, (Ltc):

Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan berhasil melaju ke Tahap II Penilaian Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) Tahun 2026.

Sebagai bagian dari proses penilaian nasional tersebut, tim penilai dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas melakukan wawancara dan verifikasi di Aula Rajabasa, Kantor Bupati Lampung Selatan, pada Kamis (2/7/2026).

Keberhasilan menembus tahap ini menjadi capaian penting bagi Kabupaten Lampung Selatan setelah sebelumnya dinyatakan lolos pada penilaian dokumen perencanaan.

Dari seluruh kabupaten di Provinsi Lampung, Lampung Selatan menjadi salah satu dari lima daerah yang berhak mengikuti tahapan wawancara dan verifikasi sebagai penentu menuju penilaian tingkat nasional.

Tim penilai yang hadir secara langsung terdiri atas Prof. Benedictus Raksaka Mahi, Ph.D., Dr. Ir. Arif Haryana, M.Sc., Ir. Andi Setyo Pambudi, S.T., M.Si., serta Abdul Gofar, S.I.Kom. Sementara itu, Prof. Dr. Gabriel Lele mengikuti proses penilaian secara daring melalui konferensi video.

Turut hadir Direktur Pengendalian dan Evaluasi Kebijakan Strategis I Kementerian PPN/Bappenas, Alen Ermanita, S.Sos., M.Sc., bersama jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam proses pembangunan daerah.

Tim Penilai Utama Bappenas, Andi Setyo Pambudi, menyampaikan bahwa penilaian tahap kedua bertujuan memperoleh informasi tambahan sekaligus mengonfirmasi hasil evaluasi terhadap dokumen perencanaan yang telah dilakukan pada tahap pertama. “Lampung Selatan merupakan salah satu kabupaten yang kami kunjungi. Artinya, Kabupaten Lampung Selatan memiliki peluang untuk menjadi penerima Penghargaan Pembangunan Daerah apabila memperoleh nilai terbaik dibandingkan kabupaten lainnya,” ujar Andi Setyo Pambudi dalam sambutannya.

Ia menjelaskan, tahapan penilaian dilakukan melalui sesi wawancara bersama pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan, kemudian dilanjutkan dengan verifikasi lapangan pada hari berikutnya untuk memastikan kesesuaian antara dokumen perencanaan dengan implementasi pembangunan di lapangan.

Menurut Andi, penilaian dilakukan secara komprehensif berdasarkan empat aspek utama, yakni pencapaian pembangunan dengan bobot 30 persen, kualitas dokumen perencanaan sebesar 25 persen, proses penyusunan dokumen perencanaan sebesar 25 persen, serta program unggulan daerah sebesar 20 persen.

“Tujuan kami adalah memperoleh informasi dan konfirmasi terhadap apa yang telah dinilai pada tahap pertama. Karena itu, kami juga melakukan verifikasi kepada para stakeholder agar memperoleh gambaran yang objektif mengenai pelaksanaan pembangunan di daerah,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bappeda Kabupaten Lampung Selatan, Aryan Saruhian, memaparkan berbagai capaian pembangunan daerah sepanjang tahun 2025 yang menjadi hasil implementasi perencanaan pembangunan yang terarah, terukur, dan berkelanjutan.

Dalam paparannya, Aryan menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Lampung Selatan meningkat menjadi 5,71 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Di sisi lain, angka kemiskinan berhasil ditekan menjadi 12,05 persen, tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,67 persen, serta Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terus menunjukkan tren peningkatan.

Pada sektor pertanian sebagai salah satu pengungkit utama perekonomian daerah, produktivitas padi meningkat sekitar 37 persen, sementara produksi jagung tumbuh hingga 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan tersebut didukung melalui penguatan mekanisasi pertanian, penyediaan sarana panen, serta pengembangan kawasan pertanian produktif.

Selain capaian pembangunan, Aryan juga memaparkan berbagai kemajuan dalam tata kelola pemerintahan. Di antaranya peningkatan nilai Reformasi Birokrasi menjadi kategori BB, meningkatnya Indeks Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), serta penerapan berbagai inovasi digital dalam proses perencanaan pembangunan.

Inovasi tersebut meliputi penerapan Musrenbang Online, SIPO Rindu, hingga integrasi pokok-pokok pikiran DPRD ke dalam sistem perencanaan daerah.

Berbagai inovasi ini diharapkan mampu memperkuat kualitas perencanaan yang lebih partisipatif, transparan, dan berbasis data.

Melalui proses wawancara dan verifikasi tersebut, Pemkab Lampung Selatan optimistis dapat menunjukkan konsistensi antara dokumen perencanaan, pelaksanaan program, serta hasil pembangunan yang dirasakan masyarakat.

Keikutsertaan dalam Penghargaan Pembangunan Daerah 2026 juga menjadi momentum untuk terus meningkatkan kualitas perencanaan dan tata kelola pembangunan yang inovatif, akuntabel, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. (Ech-Kmf)

Bupati Egi Hadiri HUT ke-80 Bhayangkara, Kapolres Lampung Selatan Tegaskan Komitmen Pelayan

0

KALIANDA, (Ltc):

Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Bhayangkara menjadi momentum bagi seluruh insan Polri untuk terus meningkatkan kualitas pengabdian kepada masyarakat melalui pelayanan yang profesional, responsif, humanis, dan berdampak nyata.

Pesan tersebut disampaikan Kapolres Lampung Selatan, AKBP Toni Kasmiri, saat membacakan amanat Kapolri pada upacara HUT ke-80 Bhayangkara yang digelar di Lapangan Apel Mapolres Lampung Selatan, pada Rabu (1/7/2026).

Upacara yang berlangsung khidmat sejak pukul 08.00 WIB itu dihadiri Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, Wakil Bupati M. Syaiful Anwar, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), personel Polri dan TNI, serta para tamu undangan lainnya.

Dalam amanat Kapolri yang dibacakannya, AKBP Toni Kasmiri menegaskan bahwa seluruh tugas kepolisian pada hakikatnya bermuara pada satu tujuan, yakni memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat secara profesional, cepat, dan responsif.

“Seluruh tugas kepolisian bermuara pada satu tujuan, yakni memberikan pelayanan terbaik yang profesional, responsif, dan berdampak langsung bagi masyarakat,” ujar AKBP Toni.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi Polri semakin kompleks, mulai dari dinamika global, ancaman kejahatan siber, perkembangan teknologi informasi, hingga konflik internasional yang berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan nasional.

Untuk itu, Polri dituntut terus beradaptasi dengan perkembangan zaman melalui penguatan sistem keamanan siber, peningkatan kemampuan prediktif, serta respons yang cepat dan tepat terhadap setiap laporan masyarakat.

“Keberhasilan berbagai program pemerintah juga tidak terlepas dari peran kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Karena itu, Polri harus terus memperkuat sinergi dengan seluruh elemen bangsa,” kata AKBP Toni.

Lebih lanjut, Kapolres menekankan pentingnya pembenahan internal guna menjawab dinamika serta ekspektasi publik yang terus berkembang. Profesionalisme, transparansi, dan akuntabilitas harus menjadi budaya kerja dalam setiap pelaksanaan tugas kepolisian.

Selain itu, pemanfaatan teknologi informasi dinilai menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri.

“Polri harus menjadi pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat yang humanis. Penguatan integritas, pelayanan berkualitas, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman menjadi kunci membangun kepercayaan masyarakat,” tegasnya.

Peringatan HUT ke-80 Bhayangkara di Lampung Selatan menjadi refleksi sekaligus penguatan komitmen Polri untuk terus menghadirkan pelayanan yang semakin profesional, modern, transparan, dan terpercaya. Semangat tersebut diharapkan mampu memperkokoh kepercayaan masyarakat sekaligus mendukung terwujudnya keamanan yang kondusif sebagai fondasi keberhasilan pembangunan daerah dan nasional. (Kmf-ptm/*/red)

Perkuat Sinergi Antarkabupaten, Bupati Radityo Egi Pratama Hadiri HUT ke-26 Apkasi di Deli Serdang

0

DELI SERDANG, (Ltc):

Komitmen Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan dalam memperkuat sinergi dan kolaborasi antardaerah kembali ditunjukkan melalui kehadiran Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, pada rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatra Utara.

Rangkaian peringatan HUT ke-26 Apkasi yang dirangkaikan dengan HUT ke-80 Kabupaten Deli Serdang diawali dengan acara welcome dinner yang berlangsung di Graha Bhineka Perkasa Jaya, Kabupaten Deli Serdang, pada Rabu malam (1/7/2026).

Kegiatan tersebut menjadi pembuka agenda nasional yang mempertemukan para kepala daerah dari berbagai kabupaten di Indonesia.

Mengusung tema “Satu Misi, Satu Aksi, Membangun Negeri”, peringatan HUT ke-26 Apkasi yang berlangsung pada 1-3 Juli 2026 menjadi momentum strategis bagi pemerintah kabupaten untuk memperkuat sinergi, memperluas jejaring kerja sama, sekaligus berbagi praktik terbaik dalam mendorong pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Acara tersebut dihadiri Gubernur Sumatra Utara Bobby Nasution, Ketua Umum Apkasi Bursah Narnubi, serta ratusan peserta yang terdiri atas para bupati, pejabat pemerintah kabupaten, serta berbagai pemangku kepentingan dari seluruh Indonesia.

Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi forum strategis untuk membangun kolaborasi antarpemerintah daerah sebagai bagian dari upaya mendukung percepatan pembangunan nasional.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Radityo Egi Pratama menyampaikan ucapan selamat kepada Pemerintah Kabupaten Deli Serdang yang memperingati hari jadinya ke-80, serta kepada Apkasi yang genap berusia 26 tahun.

“Selamat Hari Ulang Tahun ke-80 Kabupaten Deli Serdang dan Hari Ulang Tahun ke-26 Apkasi. Semoga Kabupaten Deli Serdang semakin maju dan sejahtera. Begitu pula Apkasi, semoga terus menjadi wadah yang memperkuat sinergi, kolaborasi, dan kerja sama antarpemerintah kabupaten dalam mendukung percepatan pembangunan daerah,” ujar Bupati Egi.

Dalam kunjungan kerjanya, Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama hadir didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Lampung Selatan, Supriyanto, bersama sejumlah pejabat strategis di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan.

Kehadiran jajaran Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan dalam forum Apkasi tersebut mencerminkan komitmen daerah untuk terus memperluas jejaring kemitraan, memperkuat kolaborasi lintas kabupaten, serta membuka berbagai peluang kerja sama yang diharapkan mampu mendukung percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Lampung Selatan. (Kmf-Nsy)