
“Dari Ruang Kelas Menumbuhkan Peminpin”
Bel sekolah belum berbunyi ketika beberapa peserta didik mulai memasuki ruang kelas. Sebagian membuka buku yang mereka bawa dari rumah, sebagian mengambil bacaan dari sudut literasi yang tersedia di kelas. Tidak ada suara gaduh seperti biasanya. Lima belas menit pertama pagi itu menjadi waktu yang berbeda. Mereka membaca, menyelami cerita, memahami gagasan, lalu bersiap menceritakan kembali apa yang telah mereka baca.
Bagi orang lain, mungkin pemandangan tersebut terlihat sederhana. Namun bagi seorang guru, kebiasaan kecil itu memiliki makna yang sangat besar. Saya melihat di dalamnya ada proses panjang tentang bagaimana sebuah budaya dibangun. Tidak ada perubahan yang terjadi dalam satu malam. Semua berawal dari gagasan sederhana, komitmen bersama, dan keteladanan yang terus dijaga.
Saya selalu meyakini bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung ketika guru menyampaikan materi pelajaran di depan kelas. Pendidikan terjadi ketika seorang guru mampu menanamkan nilai, membangun karakter, dan membuka jalan agar peserta didik menemukan kemampuan terbaik dalam dirinya. Ruang kelas bukan sekadar tempat belajar, tetapi tempat masa depan bangsa mulai dipersiapkan.
Dari ruang kelas itulah saya memahami bahwa kepemimpinan seorang guru sesungguhnya sudah dimulai jauh sebelum seseorang mendapatkan jabatan tertentu. Ketika guru membimbing peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, ketika guru mencari cara baru agar pembelajaran lebih menarik, ketika guru memberi semangat kepada anak yang hampir kehilangan percaya diri, saat itulah kepemimpinan sedang tumbuh.
Pemahaman tersebut semakin kuat ketika dunia pendidikan menghadapi tantangan besar akibat pandemi COVID-19 pada tahun 2020. Pandemi mengubah banyak hal dalam proses pembelajaran. Guru harus beradaptasi dengan cara mengajar yang berbeda, peserta didik harus menyesuaikan diri dengan situasi yang tidak biasa, dan sekolah harus mencari berbagai strategi agar proses pendidikan tetap berjalan.
Dalam kondisi tersebut, saya berpikir bahwa guru tidak boleh berhenti berkarya. Justru pada masa sulit seperti itulah semangat belajar dan berbagi harus semakin diperkuat. Dari pemikiran sederhana tersebut lahirlah gagasan untuk mengajak guru-guru mendokumentasikan pengalaman mengajar melalui tulisan.
Saya melihat bahwa setiap guru memiliki cerita dan pengetahuan yang sangat berharga. Bertahun-tahun berada di ruang kelas membuat guru memiliki banyak pengalaman tentang bagaimana menghadapi karakter peserta didik, bagaimana mencari solusi pembelajaran, dan bagaimana menjaga semangat belajar di tengah berbagai keterbatasan. Sayangnya, banyak pengalaman baik tersebut hanya tersimpan dalam ingatan dan belum banyak dibagikan kepada orang lain.
Karena itulah gerakan guru menulis mulai dikembangkan. Bersama rekan-rekan guru di SMA Negeri 1 Kalianda, kami mulai menuangkan pengalaman dan pemikiran dalam bentuk tulisan. Proses tersebut tidak selalu mudah. Ada guru yang awalnya merasa tidak mampu menulis, ada yang ragu apakah tulisannya layak dibaca, dan ada pula yang membutuhkan dorongan untuk memulai.
Namun, saya percaya bahwa kemampuan menulis bukan hanya milik orang-orang tertentu. Menulis adalah keterampilan yang dapat dilatih. Yang terpenting adalah keberanian untuk memulai dan kemauan untuk terus belajar.
Perlahan, semangat tersebut tumbuh. Guru mulai berbagi pengalaman, berdiskusi, saling memberikan masukan, hingga akhirnya menghasilkan karya bersama. Beberapa buku antologi guru berhasil diterbitkan, salah satunya berjudul Manajerial dan Strategi Pembelajaran di Masa Pandemi. Selain itu, beberapa guru juga mulai menghasilkan buku secara mandiri sesuai dengan bidang dan pengalaman masing-masing.
Bagi saya, lahirnya buku-buku tersebut bukan hanya keberhasilan dalam menghasilkan sebuah karya tulis. Lebih dari itu, ada perubahan cara pandang yang terjadi. Guru mulai menyadari bahwa dirinya bukan hanya pelaksana pembelajaran, tetapi juga seorang intelektual yang memiliki pengalaman dan gagasan yang layak dibagikan.
Dari pengalaman tersebut saya semakin yakin bahwa seorang pemimpin pendidikan harus berawal dari seseorang yang mau terus belajar. Kepemimpinan tidak tumbuh dari kekuasaan, tetapi dari kemauan untuk memberi manfaat. Guru yang terus berkembang akan mampu mengembangkan orang lain. Guru yang berani berubah akan mampu menggerakkan perubahan di lingkungan sekitarnya.
Gerakan menulis yang tumbuh di kalangan guru kemudian menjadi inspirasi untuk memperluas budaya literasi di lingkungan sekolah. Saya menyadari bahwa literasi tidak cukup hanya berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Literasi harus menjadi kebiasaan yang membentuk cara berpikir, cara berkomunikasi, dan cara peserta didik melihat dirinya sendiri.
Pada tahun 2021, melalui rapat sekolah bersama Kepala SMA Negeri 1 Kalianda, Ibu Darmiyati, S.Pd., M.Pd., serta seluruh dewan guru, kami menyepakati sebuah langkah sederhana namun memiliki makna besar, yaitu pembiasaan membaca selama lima belas menit sebelum pembelajaran dimulai.
Kesepakatan tersebut lahir dari kesadaran bersama bahwa budaya membaca tidak dapat tumbuh hanya melalui program yang bersifat seremonial. Membaca harus menjadi bagian dari kehidupan sekolah. Peserta didik perlu merasakan bahwa buku bukanlah beban, melainkan jendela yang membuka pengetahuan dan pengalaman baru.
Pada awal pelaksanaannya, tentu tidak semua berjalan sempurna. Ada peserta didik yang masih membutuhkan motivasi untuk membaca. Ada pula yang belum terbiasa menyampaikan kembali gagasan dari buku yang telah dibacanya. Namun kami memahami bahwa membangun budaya membutuhkan waktu. Seperti menanam sebuah pohon, hasilnya tidak dapat dinikmati dalam satu atau dua hari. Dibutuhkan kesabaran, perawatan, dan keyakinan bahwa suatu saat pohon tersebut akan tumbuh dan memberikan manfaat.
Perlahan tetapi pasti, perubahan mulai terlihat. Peserta didik semakin terbiasa berinteraksi dengan buku. Mereka mulai berani berbicara, menyampaikan pendapat, dan berdiskusi tentang berbagai hal yang mereka baca. Dari kegiatan membaca tumbuh rasa ingin tahu. Dari rasa ingin tahu muncul keberanian untuk menulis.
Saat itulah kami mulai membuka ruang yang lebih luas agar peserta didik dapat menuangkan ide dan pengalaman mereka dalam bentuk karya. Saya ingin mereka memahami bahwa buku bukan hanya sesuatu yang dibaca, tetapi juga sesuatu yang dapat mereka ciptakan.
Dari proses tersebut lahirlah berbagai karya peserta didik SMA Negeri 1 Kalianda. Mereka berhasil menghasilkan antologi puisi berjudul Penyair Muda Bumi Ragom Mufakat, antologi cerpen berjudul Langit Putih Abu-Abu, serta antologi artikel yang mengangkat tema kearifan lokal. Bagi kami, buku-buku tersebut bukan sekadar kumpulan tulisan. Setiap halaman di dalamnya menyimpan cerita tentang keberanian, proses belajar, dan mimpi peserta didik.
Saya masih mengingat kebahagiaan mereka ketika melihat tulisan sendiri tercetak dalam sebuah buku. Ada rasa bangga yang sulit digambarkan. Anak-anak yang sebelumnya mungkin merasa bahwa menulis adalah sesuatu yang sulit, akhirnya menyadari bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menghasilkan karya.
Pengalaman tersebut semakin meneguhkan keyakinan saya bahwa tugas guru bukan hanya menemukan anak yang sudah berbakat, tetapi membantu setiap anak menemukan bakat yang mungkin belum mereka sadari.
Salah satu perjalanan yang menjadi kebanggaan sekolah adalah kisah Nia Ramadani. Melalui kebiasaan membaca dan menulis yang terus dibangun, Nia semakin percaya diri mengembangkan kemampuan literasinya. Ketekunan dan kerja kerasnya kemudian mengantarkannya meraih Juara I Lomba Menulis Cerpen tingkat Kabupaten Lampung Selatan selama dua tahun berturut-turut.
Selain prestasi tersebut, peserta didik SMA Negeri 1 Kalianda juga berhasil meraih berbagai penghargaan dalam bidang literasi, seperti lomba menulis esai, cerpen, dan jurnalistik hingga tingkat kabupaten maupun provinsi. Bagi saya, prestasi tersebut bukan hanya tentang piala dan penghargaan, tetapi tentang bukti bahwa ketika sekolah memberikan ruang, peserta didik mampu berkembang melampaui batas yang mungkin sebelumnya mereka bayangkan.
Dari perjalanan panjang tersebut saya semakin memahami bahwa kepemimpinan guru tidak dapat diukur hanya dari jabatan yang dimiliki. Seorang guru disebut pemimpin ketika ia mampu menggerakkan, menginspirasi, dan membawa perubahan positif bagi orang lain.
Guru yang mengajak peserta didik membaca sedang membangun budaya belajar. Guru yang mendorong peserta didik menulis sedang menumbuhkan keberanian berekspresi. Guru yang mengajak rekan sejawat berbagi praktik baik sedang membangun komunitas pembelajar. Semua itu adalah bentuk nyata kepemimpinan.
Ruang kelas sebenarnya merupakan tempat pertama seorang guru belajar menjadi pemimpin. Di sana guru menghadapi beragam karakter manusia, menyelesaikan berbagai persoalan, mengambil keputusan, dan mencari cara terbaik agar setiap peserta didik mendapatkan kesempatan untuk berkembang.
Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi bekal penting ketika seorang guru dipersiapkan menjadi pemimpin pendidikan melalui Program Kepemimpinan Guru bagi Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) dan Bakal Calon Pengawas Sekolah (BCPS).
Menurut saya, program BCKS dan BCPS bukan hanya tentang menyiapkan seseorang untuk mengisi posisi tertentu dalam struktur pendidikan. Program ini merupakan upaya memperluas dampak kepemimpinan yang telah tumbuh dari ruang kelas.
Guru yang telah terbiasa menggerakkan perubahan kecil di kelas memiliki modal penting untuk menggerakkan perubahan yang lebih besar di sekolah. Sebab sekolah yang maju tidak hanya dibangun oleh aturan dan program kerja, tetapi oleh pemimpin yang memahami manusia di dalamnya.
Dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045, pendidikan menjadi fondasi utama yang menentukan kualitas masa depan bangsa. Bonus demografi yang dimiliki Indonesia hanya akan menjadi kekuatan apabila dipersiapkan melalui pendidikan yang bermutu. Karena itu, menghadirkan pemimpin-pemimpin pendidikan yang memiliki visi, keteladanan, dan kemampuan menggerakkan perubahan menjadi sebuah kebutuhan yang tidak dapat ditunda.
Program Kepemimpinan Guru melalui Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) dan Bakal Calon Pengawas Sekolah (BCPS) menjadi bagian penting dalam menyiapkan pemimpin pendidikan tersebut. Namun, saya meyakini bahwa kepemimpinan sejati tidak dimulai ketika seseorang mendapatkan amanah jabatan. Kepemimpinan dimulai sejak seorang guru memilih untuk peduli, terus belajar, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Pengalaman membangun budaya literasi di SMA Negeri 1 Kalianda memberikan pelajaran berharga bahwa perubahan besar sering kali berawal dari langkah kecil. Sebuah gagasan sederhana untuk mengajak guru menulis, sebuah kesepakatan membaca lima belas menit sebelum pembelajaran, hingga keberanian peserta didik menghasilkan karya tulis, semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang membangun budaya sekolah.
Dari proses tersebut saya semakin percaya bahwa ruang kelas adalah tempat pertama lahirnya para pemimpin masa depan. Di sanalah guru menanamkan nilai kejujuran, membangun karakter, menumbuhkan kreativitas, dan mengajarkan arti perjuangan.
Indonesia yang berdaulat membutuhkan generasi yang memiliki karakter kuat dan mampu menghadapi perubahan zaman. Indonesia yang adil membutuhkan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk berkembang. Indonesia yang makmur membutuhkan manusia-manusia kreatif, inovatif, dan produktif.
Semua cita-cita besar itu sesungguhnya dimulai dari ruang yang sederhana. Ruang tempat seorang guru berdiri setiap hari, menyapa peserta didiknya, membuka buku, berbagi ilmu, dan menyalakan harapan.
Bel sekolah akan kembali berbunyi esok pagi. Anak-anak akan kembali memasuki ruang kelas dengan membawa mimpi masing-masing. Mungkin mereka belum menyadari bahwa kebiasaan kecil yang dilakukan hari ini sedang mempersiapkan masa depan mereka.
Namun, bagi seorang guru, setiap proses itu memiliki arti. Sebab guru tidak hanya mengajarkan apa yang tertulis dalam buku, tetapi membantu anak-anak menemukan siapa dirinya dan apa yang mampu mereka lakukan.
Pada akhirnya, saya semakin yakin bahwa jalan menuju Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur tidak selalu dimulai dari tempat yang besar. Ia dimulai dari jutaan ruang kelas di seluruh penjuru negeri, tempat para guru dengan ketulusan hati terus menumbuhkan pemimpin-pemimpin masa depan. Karena perubahan bangsa selalu dimulai dari satu tempat yang sama.
Ruang kelas.
Oleh : Riswo, S.E., M.Si.
Guru SMA Negeri 1 Kalianda Lampung Selatan






